Metode Pembelajaran yang Berpusat pada Guru

Sabtu, 30 Juni 2012

A.    Metode Pembelajaran yang Berpusat pada Guru
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Metode dalam rangkaian sistem pembelajaran memegang peran yang sangat penting. Keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran, karena suatu strategi pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan melalui penggunaan metode pembelajaran.
Kegiatan guru yang utama adalah menerangkan dan siswa mendengarkan atau mencatat apa yang disampaikan guru. Subiyanto (1988) menjelaskan bahwa, kelas dengan pembelajaran secara biasa mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: pembelajaran secara klasikal, para siswa tidak mengetahui apa tujuan mereka belajar pada hari itu.
            Guru biasanya mengajar dengan berpedoman pada buku teks atau LKS, dengan mengutamakan metode ceramah dan kadang-kadang tanya jawab. Tes atau evaluasi yang bersifat sumatif dengan maksud untuk mengetahui perkembangan jarang dilakukan. Siswa harus mengikuti cara belajar yang dipilih oleh guru, dengan patuh mempelajari urutan yang ditetapkan guru, dan kurang sekali mendapat kesempatan untuk menyatakan pendapat.
            Disamping itu, menurutnya guru jarang mengajar siswa untuk menganalisa secara mendalam tentang suatu konsep dan jarang mendorong siswa untuk menggunakan penalaran logis yang lebih tinggi seperti kemampuan membuktikan atau memperlihatkan suatu konsep. Hal senada ditemukan oleh Marpaung (2001) bahwa dalam pembelajaran selama ini siswa hampir tidak pernah dituntut untuk mencoba strategi dan cara (alternatif) sendiri dalam memecahkan masalah.
            Freire (1999) memberikan istilah terhadap pengajaran seperti itu sebagai suatu penyelenggaraan pendidikan ber-“gaya bank” (banking concept of education). Penyelenggaraan pendidikan hanya dipandang sebagai suatu aktivitas pemberian informasi yang harus “ditelan” oleh siswa, yang wajib diingat dan dihafal. Proses ini lebih jauh akan berimplikasi pada terjadinya hubungan yang bersifat antagonisme di antara guru dan siswa. Guru sebagai subjek yang aktif dan siswa sebagai objek yang pasif dan diperlakukan tidak menjadi bagian dari realita dunia yang diajarkan kepada mereka.
            Burrowes (2003) menyampaikan bahwa pembelajaran berfokus pada guru menekankan pada resitasi konten, tanpa memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk merefleksi materi-materi yang dipresentasikan, menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya, atau mengaplikasikannya kepada situasi kehidupan nyata. Penyelenggaraan pembelajaran berfokus pada guru lebih menekankan kepada tujuan pembelajaran berupa penambahan pengetahuan, sehingga belajar dilihat sebagai proses “meniru” dan siswa dituntut untuk dapat mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari melalui kuis atau tes terstandar.
            Jika dilihat dari jalur modus penyampaian pesan pembelajaran, penyelenggaraan pembelajaran berfokus pada guru lebih sering menggunakan modus telling (pemberian informasi), ketimbang modus demonstrating (memperagakan) dan doing direct performance (memberikan kesempatan untuk menampilkan unjuk kerja secara langsung). Dalam perkataan lain, guru lebih sering menggunakan strategi atau metode ceramah dan atau drill dengan mengikuti urutan materi dalam kurikulum secara ketat. Guru berasumsi bahwa keberhasilan program pembelajaran dilihat dari ketuntasannya menyampaikan seluruh materi yag ada dalam kurikulum. Penekanan aktivitas belajar lebih banyak pada buku teks dan kemampuan mengungkapkan kembali isi buku teks tersebut.
            Penyelenggaraan pembelajaran berfokus pada guru merupakan sebuah praktik yang mekanistik dan diredusir menjadi pemberian informasi. Dalam kondisi ini, guru memainkan peran yang sangat penting karena mengajar dianggap memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar (pebelajar). Dengan kata lain, penyelenggaraan pembelajaran dianggap sebagai model transmisi pengetahuan (Tishman, et al., 1993). Dalam model ini, peran guru adalah menyiapkan dan mentransmisi pengetahuan atau informasi kepada siswa. Sedangkan peran para siswa adalah menerima, menyimpan, dan melakukan aktivitas-aktivitas lain yang sesuai dengan informasi yang diberikan.
B.     Ciri-ciri Metode Pembelajaran yang Berpusat pada Guru
Adapun ciri–ciri model pembelajaran yang berfokus pada guru, antara lain:
1.      Guru yang harus menjadi pusat dalam kegiatan belajar mengajar. Ada tiga peran utama yang harus dilakukan guru, yaitu: guru sebagai perencana; sebagai penyampai informasi; dan sebagai evaluator.
2.      Siswa ditempatkan sebagai objek belajar. Siswa dianggap sebagai organisme yang pasif, yang belum memahami apa yang harus dipahami, sehingga dalam proses pembelajaran siswa dituntut untuk memahami segala sesuatu yang disampaikan guru. Peran siswa adalah sebagai penerima informasi yang diberikan guru. Jenis pengetahuan dan keterampilan kadang tidak mempertimbangkan kebutuhan siswa, akan tetapi berangkat dari pandangan yang menurut guru dianggap baik dan bermanfaat.
Sebagai objek belajar, kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan sesuai dengan bakat dan minatnya, bahkan untuk belajar sesuai dengan gaya belajarnya menjadi terbatas. Sebab dan proses pembelajaran segalanya diatur dan ditentukan oleh guru.
3.      Kegiatan pembelajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu. Misalnya dengan penjadwalan yang ketat, siswa hanya belajar manakala ada kelas yang telah didesain sedemikian rupa sebagai tempat belajar. Adanya tempat yang telah ditentukan, sering pengajaran terjadi sangat formal, siswa duduk di bangku berjejer, dan guru didepan kelas. Demikian juga hanya dalam waktu yang diatur sangat ketat. Misalnya manakala waktu belajar satu materi tertentu telah habis, maka segera siswa akan belajar materi lain sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Cara mengajarinya pun seperti bagian-bagian yang terpisah, seakan-akan tak ada kaitannya antara materi pelajaran yang satu dengan lainnya.
4.      Tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi pelajaran. Keberhasilan suatu proses pengajaran diukur dari sejuah mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru. Materi pelajaran itu sendiri adalah pengetahuan yang bersumber dari materi pelajaran yang disampaikan di sekolah. Sedangkan mata pelajaran itu sendiri merupakan pengelaman-pengalaman manusia masa lalu yang disusun secara sistematis dan logis, kemudian diuraikan dalam buku-buku pelajaran dan selanjutnya isi buku itu harus dikuasai siswa. Kadang-kadang siswa tidak perlu memahami apa gunanya mempelajari bahan tersebut. Oleh karena kriteria keberhasilan ditentukan oleh penguasaan materi pelajaran, maka alat evaluasi yang digunakan biasanya adalah tes hasil belajar tertulis (paper and pencil test) yang dilaksanakan secara periodik.

C.    Metode-Metode Pembelajaran yang Berpusat pada Guru
Terdapat beberapa metode pembelajaran yang berpusat pada guru antara lain:
1.    Metode Ceramah
Metode ceramah dapat diartikan sebagai cara menyajikan pelajaran melalui penuturan secara lisan atau penjelasan langsung kepada kelompok siswa. Metode ceramah sampai saat ini sering digunakan oleh setiap guru atau instruktur. Hal ini selain disebabkan oleh beberapa pertimbangan tertentu, juga adanya faktor kebiasaan baik pada guru ataupun siswa. Guru biasanya belum merasa puas menakala dalam proses pengelolaan pembelajaran tidak melakukan ceramah. Demikian juga dengan siswa, mereka akan belajar manakala ada guru yang memberikan materi pelajaran melalui ceramah, sehingga ada guru yang berceramah berarti ada proses belajar dan tidak ada guru berarti tidak ada belajar. Metode ceramah merupakan cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran ekspositori.
Agar metode ceramah berhasil, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan baik pada tahap persiapan maupun pada tahap pelaksanaan.

1.    Tahap Persiapan
a.    Merumuskan tujuan yang dicapai. Proses pembelajaran adalah proses yang bertujuan, oleh sebab itu merumuskan tujuan yang jelas merupakan langkah awal yang harus dipersiapkan guru.
b.    Menentukan pokok-pokok materi yang akan diceramahkan. Keberhasilan suatu ceramah sangat tergantung kepada tingkat penguasaan guru tentang materi yang akan diceramahkan. Oleh karena itu, guru harus mempersiapkan pokok-pokok materi yang akan disampaikan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Dalam penentuan pokok-pokok ini juga perlu dipersiapkan ilustrasi-ilustrasi yang relevan untuk memperjelas informasi yang akan disampaikan.
c.    Mempersiapkan alat bantu. Alat bantu sangat diperlukan untuk menghindari kesalahan persepsi dari siswa. Alat bantu tersebut misalnya dengan mempersiapkan transparansi atau media grafis lainnya untuk meningkatkan kulitas ceramah.
2.    Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini ada tiga langkah yang harus dilakukan:
a.    Langkah pembukaan
Langkah pembukaan dalam metode ceramah merupakan langkah-langkah yang menentukan. keberhasilan pelaksanaan ceramah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam langkah ini yaitu:
1)      Yakinlah bahwa siswa memahami tujuan yang akan dicapai. Oleh karena itu, guru perlu mengemukakan terlebih dahulu tujuan yang harus dicapai oleh siswa. Dengan demikian, penjelasan tentang tujuan akan merangsang siswa untuk termotivasi mengikuti proses pembelajaran melalui ceramah itu.
2)    Lakukan langkah apersepsi, yaitu langkah menghubungkan materi pelajaran yang lalu dengan materi pelajaran yang akan disampaikan. Tujuan langkah apersepsi adalah untuk mempersiapkan secara mental agar siswa mampu dan dapat menerima materi pembelajaran.

b.    Langkah penyajian
Tahap penyajian adalah tahap penyampaian materi pembelajaran dengan cara bertutur. Agar ceramah yang disampaikan berkulaitas sebagai metode pembelajaran, maka guru harus menjaga perhatian siswa agar tetap terarah pada materi pembelajaran yang sedang disampaikan. Untuk menjaga perhatian ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan:
1)      Menjaga kontak mata secara terus menerus dengan siswa. Kontak mata adalah suatu isyarat dari guru agar siswa mau memerhatikan. Selain itu, kontak mata juga dapat berarti suatu penghargaan dari guru kepada siswa. Siswa yang selalu mendapatkan pandangan dari guru akan merasa dihargai dan diperhatikan.
2)    Gunakan bahasa yang komunikatif dan mudah dicerna oleh siswa. Oleh sebab itu, sebaiknya guru tidak menggunakan istilah-istilah yang kurang popular. Selain itu, jaga intonasi suara agar seluruh siswa dapat mendengarnya dengan baik.
3)    Sajikan materi pembelajaran secara sistematis, tidak meloncat-loncat agar mudah ditangkap oleh siswa.
4)      Tanggapilah respon siswa dengan segera. Artinya, sekecil apapun respon siswa harus ditanggapi. Apabila siswa memberikan respon yang tepat, segeralah memberi penguatan dengan memberikan semacam pujian yang membanggakan hati. Sedangkn, seandainya siswa memberikan respon yang kurang tepat, segeralah tunjukkan bahwa respon siswa perlu perbaikan dengan tidak meninggung perasaan siswa.  
5)      Jagalah agar kelas tetap kondusif dan menggairahkan untuk belajar.
c.    Langkah mengakhiri atau menutup ceramah
Ceramah harus ditutup agar materi pelajaran yang telah dipahami akan dikuasai siswa tidak lenyap begitu saja. Ciptakanlah kegiatan-kegiatan yang memungkinkan siswa tetap mengingat materi pembelajaran. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk keperluan tersebut diantaranya:
1)      Membimbing siswa untuk menarik kesimpulan atau merangkum materi pelajaran yang baru saja disampaikan.
2)      Merangsang siswa untuk dapat menanggapi atau memberi semacam ulasan tentang materi pembelajaran yang telah disampaikan.
3)      Melakukan evaluasi untuk mengetahui kemampuan siswa menguasai materi pembelajaran yang baru saja disampaikan.
2.      Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Dalam strategi pembelajaran demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri.
Metode demonstrasi digunakan dengan tujuan:
a.    Mengajarkan suatu proses atau prosedur yang harus dikuasai oleh siswa.
b.    Mengkongkritkan informasi atau penjelasan kepada siswa.
c.    Mengembangkan kemampuan pengamatan kepada para siswa secara bersama-bersama.
Langkah-langkah pelaksanaan metode demonstrasi yaitu:
a.    Kegiatan persiapan
1)   Merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa.
2)   Menyusun materi yang akan diajarkan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
3)   Menyiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan untuk mempermudah penguasaan materi yang telah disiapkan.
4)      Melakukan latihan pendemonstrasian termasuk cara pengguanaan peralatan yang diperlukan.
b.     Kegiatan pelaksanaan metode demonstrasi
1)   Kegiatan pembukaan
Sebelum kegiatan demonstrasi, ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam pembukaan pembelajaran:
a)      Aturlah tempat duduk yang memungkinkan setiap siswa dapat memperhatikan apa yang didemonstrasikan guru.
b)      Tanyakan pelajaran sebelumnya.
c)      Timbulkan motivasi siswa dengan mengemukakan anekdot atau kasus di masyarakat yang ada kaitannya dengan pelajaran yang akan dibahas.
d)     Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa dan juga tugas-tugas apa yang harus dilakukan disamping dalam demonstrasi nanti.
2)   Kegiatan inti pembelajaran
a)    Mulailah melakukan demonstrasi sesuai yang telah direncanakan dan dipersiapkan oleh guru.
b)   Pusatkan perhatian siswa kepada hal-hal penting yang harus dikuasai dari demonstrasi yang dilakukan oleh guru sehingga semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan sebaik-baiknya.
c)    Ciptakan suasana kondusif dan hindari suasana yang menegangkan.
d)   Berikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dan kritis mengikuti proses demonstrasi termasuk member kesempatan bertanya dan komentar-komentar.
c.    Kegiatan mengakhiri pembelajaran
1)   Meminta siswa merangkum atau menyimpulkan pokok-pokok atau langkah-langkah kegiatan demonstrasi.
2)   Memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum dipahami.
3)   Melakukan evaluasi, baik evaluasi hasil belajar maupun evaluasi bersama tentang jalannya proses demonstrasi.
4)   Tindak lanjut baik berupa tugas-tugas berikutnya maupun tugas-tugas untuk mendalami materi yang baru diajarkan.
3.      Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah suatu cara penyampaian pelajaran oleh guru dengan jalan mengajukan pertanyaan dan murid menjawab. Metode ini dimaksudkan untuk meninjau pelajaran yang lalu agar para murid memusatkan lagi perhatiannya tentang sejumlah kemajuan yang telah dicapai sehingga dapat melanjutkan pada pelajaran berikutnya dan untuk merangsang perhatian murid.
Adapun tujuan metode tanya jawab adalah:
a.    Untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
b.    Mendorong siswa berani mengajukan pertanyaan kepada guru tentang masalah yang belum dipahami.
c.    Menimbulkan kompetisi belajar yang sehat, dimana siswa yang aktif dan dapat menjawab pertanyaan guru atau siswa lain dengan baik akan lebih percaya diri dan akan terus berusaha untuk lebih baik lagi, dan siswa yang belum aktif atau tidak menjawab pertanyaan guru atau siswa lainnnya dapat mempersiapkan diri lebih baik lagi dalam kesempatan lain.
d.   Melatih siswa untuk berpikir dan berbicara secara sistematis dan sistemik berdasarkan pemikiran orisinil.
e.    Dengan metode tanya jawab siswa diarahkan agar mengerti, memahami dan berinteraksi secara aktif dalam pembelajaran sehingga tujuan dapat dicapai dengan baik.
            Langkah-langkah pelaksanaan metode tanya jawab
a.    Kegiatan persiapan
1)   Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah pembelajaran berakhir.
2)   Siapkan materi pembelajaran sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.
3)   Siapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan digunakan sesuai dengan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik ( tergantung materi dan tujuan pelajaran).
b.    Kegiatan pelaksanaan
1)   Ajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi pelajaran seperti yang telah diterapkan sebelumnya.
2)   Gunakan keterampilan-keterampilan bertanya dasar dan lanjut seperti memberi acuan, pemusatan, menggilir, menyebarkan, memberi waktu berpikir, memberi tuntunan, mengajukan pertanyaan melacak dan sebagainya.
3)   Jangan lupa member penguatan yang dapat menjawab pertanyaan guru dan menghindari pemberian penguatan negative bagi siswa yang tidak dapat menjawab pertanyaan atau jawabannya salah.
4)   Beri tuntunan bagi siswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan guru atau bagi siswa yang menjawabnya salah. Jika siswa tidak dapat menjawab pertanyaan alihkan ke beberapa siswa lain sampai diperoleh jawaban yang benar. Siswa yang menjawab salah diminta mengulangi jawaban yang benar. Jika tidak ada satupun siswa yang menjawab dengan benar, maka guru guru harus menjawab dan member penjelasan.
5)   Jika ada siswa yang bertanya lemparkan pertanyaan itu pada siswa lain untuk menjawabnya, jangan terburu-buru guru sendiri yang menjawab pertanyaan itu.
6)   Pertanyaan guru yang sahih (analisis, sistesis dan evaluasi) beri kesempatan siswa mendiskusikan dengan teman sebangkunya untuk memperoleh jawaban yang benar.
7)   Setiap pokok bahasan yang selesai dipertanyakan, guru meminta siswa untuk membuat kesimpulannya.
c.    Kegiatan mengakhiri tanya jawab
1)   Meminta siswa merangkum isi pelajaran yang dilaksanakan melalui tanya jawab. Guru membimbing siswa membuat rangkuman itu melalui tuntunan atau pertanyaan-pertanyaan pelacak untuk memperoleh rangkuman yang diinginkan.
2)   Guru melakukan evaluasi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan.
3)   Guru memberi tugas untuk mempelajari materi pelajaran dirumah untuk makin menguasai materi tersebut.





D.  Kelebihan dan Kelemahan Metode Pembelajaran yang Berpusat pada Guru
1.    Metode ceramah
Ada beberapa alasan mengapa metode ceramah sering dugunakan. Alasan ini sekaligus merupakan kelebihan metode ini.
a.    Ceramah merupakan metode yang ‘murah’ dan ‘mudah’ dilakukan. Murah dalam hal ini dimaksudkan proses ceramah tidak memerlukan peralatan-peralatan yang lengkap. Sedangkan mudah dalam hal ini dimaksudkan metode ceramah hanya mengandalkan suara guru dengan demikian tidak terlalu memerlukan persiapan yang rumit.
b.    Ceramah dapat menyajikan materi pelajaran yang luas. Artinya, materi pelajaran yang banyak dapat dirangkum atau dijelaskan pokok-pokoknya oleh guru  guru dalam waktu yang singkat.
c.    Ceramah dapat memberikan pokok-pokok materi yang perlu ditonjolkan. Artinya, guru dapat mengatur pokok-pokok materi yang mana yang perlu ditekankan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai.
d.   Organisasi kelas dengan menggunakan metode ceramah dapat diatur menjadi lebih sederhana. Ceramah tidak memerlukan persiapan-persiapan yang rumit. Asal siswa dapat menempati tempat duduk untuk mendengarkan guru, maka ceramah sudah dapt dilakukan.
Disamping beberapa kelebihan di atas, metode ceramah juga memiliki kelemahan antara lain:
a.       Materi yang dapt dikuasai siswa sebagai hasil dari ceramah akan terbatas pada apa yang dikuasai guru.
b.      Ceramah yang tidak disertai dengan peragaan dapat mengakibatkan terjadinya verbalisme. Verbalisme adalah ‘penyakit’ yang sangat mungkin disebabkan oleh ceramah. Oleh karena itu, dalam proses penyajiannnya guru hanya mengandalkan bahasa verbal dan siswa hanya mengandalkan kemampuan auditifnya. Sedangkan, disadari bahwa setiap siswa memiliki kemampuan yang tidak sama, termasuk dalam ketajaman menangkap materi pembelajaran melalui pendengarannya.
c.       Guru yang kurang memiliki kemampuan bertutur yang baik, ceramah sering dianggap sebagai metode yang membosankan. Sering terjadi walaupun secara fisik siswa ada di dalam kelas, namun secara mental siswa sama sekali tidak mengikuti berlangsungnya poses pembelajaran, pikiran melayang kemana-mana atau siswa mengantuk karena gaya bertutur guru tidak menarik.
d.      Melalui ceramah sangat sulit untuk mengetahui apakah seluruh siswa telah mengerti apa yang dijelaskan oleh guru. Walaupun ketika siswa diberi kesempatan untuk bertanya dan tida ada seorang pun yang bertanya, semua itu tidak menjamin siswa seluruhnya sudah paham.
2.    Metode demonstrasi
Sebagai suatu metode pembelajaran demonstrasi memiliki beberapa kelebihan antara lain:
a.       Melalui metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa disuruh langsung memerhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.
b.      Proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tidak hanya mendengar tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
c.       Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membendingkan teori dan kenyataan. Dengan demikian siswa akan lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran.
Disamping beberapa kelebihan, metode demonstrasi juga memiliki beberapa kelemahan antara lain:
a.       Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyababkan metode ini tidak efektif lagi. Bahkan sering terjadi untuk mengahsilkan pertunjukkan sesuatu proses tertentu, guru harus beberapa kali mencobanya terlebih dahulu sehingga dapat memakan waktu yang lama.
b.      Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan-bahan dan tempat memadai yang berarti penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan dengan ceramah.
c.       Demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus, sehingga guru dituntut untuk bekerja lebih professional. Disamping  itu, demonstrasi juga memerlukan kemauan dan mootivasi guru yang bagus untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa.
3.      Metode Tanya Jawab
Suatu metode tanya jawab memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut:
a.       Siswa akan menjadi aktif dengan sendirinya.
b.      Siswa tidak mengalami kebosanan karena dalam metode tersebut melibatkan siswa.
c.       Dapat memotivasi siswa untuk berani bertanya dan menjawab.
Metode tanya jawab ini juga memiliki beberapa kelemahan yaitu:
a.       Siswa yang tidak aktif cenderung tidak memperhatikan materi yang disampaikan guru.
b.      Metode ini tidak dapat berjalan dengan baik jika siswa dominan pasif di dalam kelas.
c.       Hanya membuang-buang waktu saja jika tidak mendapat respon baik dari siswa.

2 komentar:

fitriana musofa mengatakan...

terimakasi ya.. artikelnya sangat membntu :)

ekHa MukaRRaMaH mengatakan...

Kmbali kasih :)

Poskan Komentar